Mengenal Kampung Inggris

00.57 0 Comments A+ a-


Pertama kali saya mendengar kata “Kampung Inggris” yang terlintas dipikiran saya adalah sebuah kampung yang dimana isinya orang-orang bule yang selalu berbicara bahasa Inggris dimana-mana. Saya membayangkan anak kecil sampai orang dewasa semuanya juga berbicara bahasa Inggris, dari tukang bakso, mie ayam, bubur ayam, atau bahkan tukang batagor berbicara bahasa Inggris.

Setelah saya berkunjung dan belajar bahasa Inggris disana ternyata pemberitaan tersebut tidak semuanya sesuai kenyataan, bahkan pemberitaan ada yang terkesan dilebih-lebihkan oleh media massa baik media cetak maupun elektronik. Melalui postingan ini saya akan memberikan sedikit gambaran tentang keadaan sebenarnya dari Kampung Inggris dan sedikit meluruskan beberapa anggapan yang keliru menurut pengalaman saya berada disana.

   
Pengertian Kampung Inggris

Setelah saya bertanya kepada ibu-ibu yang jualan pentol didepan Elfast (nama salah satu lembaga kursus di Kampung Inggris) dan bertanya kepada mbah google ternyata nama “Kampung Inggris” itu bukan nama formal dari suatu desa. Kampung Inggris itu cuma sebutan suatu perkampungan yang terletak di sepanjang Jalan Anyelir, Jalan Brawijaya, dan Jalan Kemuning yang berada di Desa Singgahan dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebuah pedesaan kecil yang sejuk, damai dan jauh dari perkotaan. Seperti halnya sebuah pedesaan masyarakat asli sana sebagian besar bekerja sebagai petani, karena disana juga terdapat pesawahan yang lumayan luas. Saya perlu menegaskan lagi bahwa orang-orang yang tinggal disana adalah asli Indonesia bukan para bule yang dari luar negeri.

Tapi saya tidak mengatakan bahwa tidak ada sama sekali bule disana. Mungkin sepengetahuan saya ada dua atau tiga bule yang tinggal disana yang menetap dan menjadi staf pengajar dibeberapa lembaga kursus yang ada di Kampung Inggris. Jadi, anggapan yang menyebutkan bahwa Kampung Inggris adalah tempat tinggal para bule itu sangat keliru.

Namun sebutan Kampung Inggris bukan tanpa alasan. Disebut Kampung Inggris karena disana banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan terdapat banyak sekkali lembaga kursus bahasa Inggris disana. Menurut mbah google pada tahun 2011 tercatat sekitar 100 lembaga kursus bahasa Inggris yang ada disana, bahkan saya sampai tidak dapat mengingat nama-nama lembaga tersebut karena terlalu banyak. Sejauh mata saya memandang berjejer lembaga kursus disepanjang jalan. Mungkin dapat saya katakan bahwa Kampung Inggris adalah pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Maka saya tak heran lagi ketika berada disana kalau banyak orang berbicara bahasa Inggris dimana-mana, karena saya tahu mereka pasti salah satu murid atau guru dari lembaga kursus yang ada disana. 
  
Masa Lalu Kampung Inggris

Saya akan sedikit bercerita tentang masa lalu Kampung Inggris. Lagi-lagi cerita ini saya dapat dari cerita ibu-ibu yang jualan pentol tadi dan mbah google tentunya. Semuanya berawal dari didirikannya lembaga kursus yang bernama BEC (Basic English Course) oleh seorang pendatang yang bernama Pak Kallen atau orang-orang disana menyebutnya Mr. Kallen. Siapa sih yang tak kenal Mr. Kallen kata ibu-ibu tersebut dengan antusias.

Awalnya cuman berlokasi di teras masjid dengan fasilitas seadanya untuk anak-anak di desa tersebut yang kurang menguasai bahasa Inggris. Lama-kelamaan para masyarakat memperbolehkan untuk mengajar dirumah mereka, dan pada akhirnya bisa memiliki gedung sendiri. Luar biasa perjuangan Mr. Kallen, pantang menyerah dan konsisten sehingga kini berdiri gedung yang cukup besar di Kampung Inggris yang bernama BEC. Lulusan dari BEC tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, hal ini yang mengundang banyak pendatang untuk datang kesana dan belajar bahasa Inggris. Sampai-sampai tidak ada tempat lagi di BEC untuk menampung para calon murid disana. Menurut yang saya ketahui dari teman saya di BEC minimal 6 bulan untuk kursus disini, dan kalau kita mendatar bulan ini, kita harus menunggu antrian mungkin bisa sampai berbulan-bulan baru kita bisa masuk ke BEC karena saking banyaknya yang mau masuk kesana.

Permintaan semakin meningkat karena ada banyak orang yang mau belajar bahasa Inggris maka untuk memenuhi permintaan tersebut beberapa lulusan BEC mendirikan lembaga kursus sendiri meskipun ada juga yang menjadi staf pengajar di BEC. Lembaga kursus yang didirikan pun semakin beragam dari segi waktu, spesialisasi program yang diambil,, metode pengajaran serta biaya yang berbeda-beda pula. Namun tidak semua lulusan BEC memilih untuk mengajar dan mendirikan tempat kursus sendiri. Sebagian dari mereka ada juga yang memilih menjadi wirausaha, mendirikan tempat makan, jualan bubur ayam, jualan pentol, dan banyak lagi usaha-usaha mereka.

Jadi saya tidak perlu heran lagi kenapa ada sebagian pedagang yang pandai berbahasa Inggris, walaupun sebagian besar masih menggunakan bahasa daerah mereka yaitu bahasa Jawa. Alhamdulillah disamping belajar bahasa Inggris saya juga belajar sedikit bahasa Jawa disana. Menurut yang saya ketahui di sana para pedagang yang belum bisa berbahasa Inggris diberikan kursus bahasa Inggris gratis bagi mereka yang mau belajar.  


Mungkin cukup sampai disini dulu postingan kali ini semoga memberikan sedikit gambaran tentang Kampung Inggris. Jika masih penasaran tentang Kampung Inggris dan masih bingung bagaimana cara pergi kesana tunggu postingan saya selanjutnya.